PROSESI NYONGKOLAN SUKU SASAK LOMBOK

 

SA2KCREATIVE.COM,- Sebagai masyarakat yang memiliki budaya, dalam tradisi sehari-hari, masyarkat yang ada di Lombok khususnya suku sasak memilik sebuah tradisi yang unik yakni Tradisi Nyongkolan. Pada Kamis 23/02 lalu penulis berkesempatan menyaksikan secara langsung prosesi nyongkolan salah seorang Bajang (pemuda) bernama Sutriasi (20) yang menikah dengan seorang dedare (gadis) asal Desa Pengenjek Jonggat bernama Uswatun (18). Keduanya merupakan pasangan muda mudi asal Daerah Lombok.

nyongkolan1

Nyongkolan sendiri berasal dari kata ‘’songkol” yang berarti mendorong dari belakang atau bisa diartikan menggiring (mengiring). Dan Nyongkolan adalah prosesi adat yang dijalankan apabila adanya proses pernikahan antara Laki-Laki (Terune) dan Perempuan (Dedare) di dalam suku Sasak Lombok. Biasanya nyongkolan akan dilaksanakan setelah proses “begawe” (pesta perayaan setelah akad nikah), untuk waktu bisa ditentukan oleh kedua belah pihak. Ada yang meringkas dalam satu waktu ada pula yang akan melakukan nyongkolan seminggu setelah proses akad nikah atau begawe dilaksanakan.

 

Saat pelaksanaan tradisi nyongkolan ini,  arak-arakan pasangan pengantin didampingi oleh dedare-dedare dan terune-terune sasak, juga ditemani oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, atau pemuka adat beserta sanak saudara berjalan mengiringi pengantin. Peserta iring-iringan tersebut haruslah mengenakan pakaian khas adat suku Sasak, untuk peserta wanita menggunakan baju Lambung (kadang-kadang juga menggunakan baju kebaya), kereng nine / kain songket (sarung khas Lombok), sanggul (penghias kepala), anting dan asesoris lainnya. Bagi pengiring laki-laki menggunakan baju model jas berwarna hitam (atau variasi) yang dijuluki tegodek nongkeq, kereng selewoq poto (sarung tenun panjang khas Lombok) dan sapuk (ikat kepala khas Lombok).

 

Pengantin laki-laki dan perempuan akan diiring atau diarak layaknya Raja dan Permaisuri menuju kediaman keluarga pihak pengantin perempuan. Sambil diiringi dengan musik tetabuhan tradisional baik berupa Gendang Beleq, Gamelan Beleq, Kedodak, atau cilokaq bahkan sekarang ada yang namanya Kecimol atau sebuah grup drum band yang  diiringi oleh penyanyi.

 

Sesampai dikediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin akan melakukan sungkeman untuk meminta do’a restu kepada pihak keluarga juga sebagai tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui untuk melepas anak gadis mereka dan dibawa oleh suaminya.

 

Demikianlah sepenggal tradisi adat suku Sasak Lombok dalam melangsungkan prosesi pernikahan [Asm]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *