MENENGOK TRADISI BEGAWE SUKU SASAK LOMBOK

 

Sa2k Creative,- Malam hari (21/08/2015) penulis bersama rekan-rekan remaja Dusun Berembeng Daye berkesempatan menghadiri acara “Begawe” salah satu rekan bajang (pemuda) di tempat tinggal penulis yakni Harianto (22) yang menikah dengan salah satu dara dari kampung sebelah bernama Sopiatun (15).

 

Menyebut kata “Begawe” bukan merupakan sesuatu yang asing di telinga masyarakat khususnya masyarakat Dusun Berembeng dan umumnya masyarakat Suku Sasak yang tinggal di Lombok. Karena Begawe sudah menjadi tradisi turun – menurun yang selalu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atau pesta untuk merayakan sesuatu seperti acara pernikahan, khitanan, berangkat haji atau acara untuk orang  yang sudah meninggal dan lain sebagainya.

Begawe

Rangkain acara begawe seperti gawe pernikahan dimulai dengan memasang taring atau terop di sekitar rumah epen gawe (yang mempunyai acara begawe) selain sebagai tempat berteduh juga sebagai ciri khas yang menunjukan bahwa dirumah tersebut sedang ada acara begawe. Kemudian dari sore sampai malam harinya para tetangga termasuk sanak keluarga dari kedua pengantin dan warga dari kampung sebelah bertamu dan bersilaturahmi sambil membawa hantaran untuk Epen Gawe berupa beras dan gula atau semacamnya, setelahnya mereka di berikan “Berkat” atau semacam oleh-oleh berupa makanan tradisional khas suku sasak Lombok seperti sumping, banget, jaje renggi, Tempeyek, jaje angin-angin dan lain-lain yang sudah dipersiapkan beberapa minggu sebelum acara begawe.

Tetangga sekitar yang khusus membantu acara begawe disebut dengan “Banjar” merekalah yang bergotong royong mempersiapkan sajian untuk tamu maupun yang ikut membantu dalam acara begawe. Banjar ini dibagi menjadi dua ada banjar laki-laki dan banjar bini (perempuan). Banjar laki-laki bertugas membantu persiapan masakan dan lauk pauk termasuk mengupas kelapa, sedangkan banjar bini bertugas membantu persiapan seperti mengupas gedang (pepaya), nangke (nangka), mencuci piring dan sebagainya setelah semuanya siap keesokan harinya diaadakan acara ruah (syukuran) dengan mengundang tetangga sekitar untuk makan bersama dirangkai dengan acara zikiran. Selanjutnya diteruskan dengan acara “Ngejot atau Begibung” (membagikan makanan yang sudah dimasak oleh para banjar kepada warga atau tetangga yang sudah hadir membawa hantaran kepada epen gawe).

 

Setelah acara ngejot atau begibung selesai, siang menjelang sore nya, ada acara “Nyongkolan” atau memperkenalkan mempelai yang sedang menikah dengan iring-iringan kecimol atau pun gendang bele (musik tradisional masyarakat suku sasak) di bawa kerumah mempelai wanita. Biasanya acara ini sangat dinanti-nanti oleh para pemuda dan dedare-dedare (gadis-gadis) karena mereka berkesempatan berdandan sebaik mungkin untuk tampil dan mengiring pengantin dalam acara nyongkolan.

 

Yang unik dari seluruh rangkaian acara begawe adalah semuanya dikerjakan dan dilakukan secara besama-sama atau bergotong royong sehingga rasa persaudaraan, persatuan dan kekeluargaan menjadi sangat terasa. H. Suhaili Mansyur (42) salah seorang tokoh masyarakat mengungkapkan ia merasa bersyukur tradisi begawe masih dilestarikan masyarakat karena dengan demikian silaturrahmi dan kekompakkan masyarakat bisa terus terjaga. (by : Asmuni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *